Ketika Mereka Menangis

ilustrasi by pinterest

 

 

Langit merah, dan angin yang berembus kencang seperti mimpi yang pernah kusaksikan. Seluruh tubuhku bergetar hebat, kepala terasa pusing, dan yang lebih membuat takut saat kusaksikan jari-jari tangan perlahan menghitam lengkap dengan kuku panjang berwarna merah kehitaman, apa yang terjadi dan siapa aku? Ribuan pertanyaan penuhi pikiran, membuat kepala berdenyut sakit.

 

“Finn, ada teman nunggu di bawah!” seruan di balik pintu kembalikan kesadaran.

Tubuh terhuyung saat berjalan namun kutahan sekuat tenaga, gegas kubuka pintu kamar. Tampak pemilik asrama tempat aku tinggal menatap tajam penuh selidik.

 

“Finn, apa kamu sakit? Wajahmu pucat, apa panggilanku membuatmu kaget?” tanya wanita berusia 50 tahunan itu cemas.

 

“Tidak Bu, hanya sedikit pusing, nanti juga sembuh,” jawabku.

 

Tanpa menunggu lagi, gegas menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Dirga temanku tengah asyik bermain ponsel di ruang tamu.

 

“Maaf Ga, lama ya? Tadi ketiduran,” ucapku berbohong.

 

“Kebiasaan yang terpelihara, lihat ini sudah hampir senja ayo buruan kita berangkat,” jawab Dirga sedikit marah.

 

Aku hanya tersenyum kecut melihatnya meninggikan suara, aku akan merahasiakan apa yang baru saja terjadi. Kepergian kami kali ini untuk menguji nyali, kebiasaan anak-anak muda yang kurang kerjaan di waktu senggang. Tempat tujuan kami adalah sebuah Gedung kosong yang konon katanya angker.

 

Aku, Dirga, Reno, Shinta, dan Arisha. Kami biasa disebut lima sekawan yang selalu berpetualang mencari kebenaran tentang tempat-tempat yang dianggap angker. Tapi kepergian kali ini membuatku merasa sedikit cemas, mungkin karena terpengaruh kejadian yang menimpaku sore tadi. Berbekal senter dan kamera, kami memasuki halaman gedung tua yang tampak sangat menyeramkan.

 

Sampai di ruang utama bangunan besar tersebut, Dirga membuat rencana. Kami dibagi menjadi tiga kelompok untuk menjelajah setiap sudut ruangan. Dirga bersama Shinta, Reno dan Arisha, sementara aku sendiri. Tugasku adalah menjelajah ruangan di lantai dua. Tidak seperti yang diceritakan, ruangan di lantai atas tampak kosong. Hanya kegelapan yang menyelimuti, tak ada benda-benda memenuhi ruangan tersebut.

 

Pandanganku tertuju pada sebuah benda berbentuk segi empat di tengah ruangan. Bau anyir menguar saat embusan angin menerpa wajahku. Senter di tangan kuarahkan pada benda itu, ukirannya sangat indah menarikku untuk mendekat dan menyentuh. Tubuhku seperti tersengat arus listrik saat jemari menyentuh permukaan benda tersebut.

 

Kembali teringat pada mimpi yang kerap mengganggu malamku. Seorang wanita muda meronta dan berteriak, menangis memohon untuk bayinya. Sementara di depannya tampak pria tua tengah menggendong bayi di tangan kiri, kobaran api berwarna merah kehitaman  serta asap hitam yang menyesakkan napas. Api itu berkobar di dalam benda berbentuk segi empat yang tampak seperti meja.

 

“Hendra, pegang erat istrimu, bayi kalian harus disucikan agar tidak ada petaka di kemudian hari,” ucap pria tua dengan lantang.

 

“Hentikan Ayah, ini semua karena perbuatanmu. Bayiku adalah korban dari persekutuanmu dengan iblis, dia tidak bersalah!” teriak wanita muda disertai tangis.

 

“Lara, kita tidak bisa membiarkan bayi ini hidup jadi hentikan tangismu. Petaka akan terjadi 20 tahun mendatang kalau dia tetap hidup,” jawab pria tua.

 

Pria itu memejamkan mata dari mulutnya terdengar racauan yang tak jelas. Diangkatnya bayi itu tinggi-tinggi ke arah kobaran api, sementara wanita muda terus menangis dan meronta dalam dekapan suaminya yang juga tengah menangis. Lara menjerit, kekuatan seorang ibu membuatnya mampu melepaskan diri, secepat kilat merebut bayinya yang tengah menangis. Karena terlalu kencang berlari, tubuhnya menabrak jendela kaca dan jatuh. Bayi mungil dalam dekapan terlepas, lalu jatuh ke dalam sungai yang berada tepat di belakang bangunan rumah.

 

Dada terasa sesak, kepala kembali berdenyut sakit mengingat kembali mimpi itu. Perlahan kubuka mata, dan kembali kulihat langit berubah merah seperti sore tadi.

 

“Lepaskan aku Dirga, kalian keterlaluan membuat Finn menjadi korban. Aku tidak menyangka kalian setega ini, kalau aku tahu misi kita kali ini harus menumbalkan salah satu dari kita aku tidak akan pernah ikut!” teriak Shinta mengagetkanku.

 

Jeritannya mengingatkanku pada sosok wanita muda bernama Lara yang rela kehilangan nyawa demi bayinya. Tubuhku terasa seringan kapas, melayang menuju ke arah Shinta dan yang lainnya di lantai bawah. Mereka terkejut melihat kedatanganku, raut wajah mereka berubah pucat.

 

Mungkin karena menyaksikan jari tanganku yang berkuku panjang, aku mendekat kutarik tubuh Dirga kemudian menyerangnya dengan kuku tajamku. Pandanganku semakin buram, kali ini aku tak bisa lagi mengenali mereka satu persatu, yang ada dalam pikiran adalah aku harus mengalahkan mereka semua.

 

Mereka yang telah membuat seorang wanita menangis. Rasa marah penuhi dada, mereka terkapar di lantai dengan penuh luka. Bau anyir menyesakkan, langit masih berwarna merah. Kobaran api amarah masih belum reda. Hanya tinggal seorang wanita yang menangis ketakutan melihatku mendekat. Tanganku mengulur ke arah leher, mencekik kuat hingga napasnya tersengal.

“Finn, ini aku Shinta sadarlah Finn,” bisiknya lirih namun mampu kudengar.

Tanganku mengendur hingga wanita itu berhasil melepaskan diri dari cengkeraman. Namun hal yang tak terduga terjadi, bukannya lari menjauh tapi wanita itu menghambur ke arahku memeluk erat.

 

“Finn, sadarlah aku tidak ingin melihat matamu yang indah berubah menjadi merah seperti ini, jika aku harus mati seperti mereka aku rela. Tapi kembalilah menjadi Finn yang kukenal,” bisiknya membuat dadaku terasa sakit.

 

Aku masih belum mengenali siapa yang memelukku, tapi kata-katanya melukai hati. Sekujur tubuhku bergetar menahan rasa yang tak mampu kukendalikan dan semuanya menjadi gelap.

 

Purbalingga, 17 April 2022

 

#CerpenMisteriRamadhan